«

»

Apr 15

SENATOR SALUT MANAJEMEN PURA ULUN DANU BATUR SANGAT TRANSPARAN DAN RAPI

PEPRANIAN – Shri I Gusti Ngrurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Ida Jero Gede Batur di Sela Bhakti Pepranian Ring Pura Ulun Danu Batur Kintamani Bangli

WEDAKARNA APRESIASI WARUNG SUKLA PENUHI KAWASAN PURA

Pura Ulun Danu Batur yang terletak di Kecamatan Kintamani Bangli, adalah salah satu pura penting bagi umat Hindu Indonesia. Dari sejak zaman Bali Kuno, hingga Indonesia Merdeka, Pura Ulun Danu Batur membawa peranan penting dalam perjalanan kemakmuran masyarakat Siwa Buddha di Bali. Uniknya, dalam Pura Ulun Danu, juga terdapat pelinggih yang dipuja umat Buddha yakni Konco yang berada dalam satu natah dengan tempat suci umat Hindu, sehingga nilai nilai Pancasila jauh sudah terpatri. Demikian diungkap oleh Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III ditemui usai menghadiri Upacara Bhakti Pepranian Pujawali Ngusaba Kadasa ring Pura Ulun Danu Batur.      “ Selain sejarahnya yang hebat, Pura Ulun Danu Batur ini memiliki manajemen pura yang Professional. Pencatatan pemasukan punia dan sesari serta pengeluarannya disampaikan secara transparan dan apa adanya. Milyaran uang umat Hindu dikelola secara baik dan transparan dengan diumumkan secara publik. Tentu ini berkat keteladanan dari Ida Jero Gede Batur. Tiang Rasa, pura pura Khayangan Jagat diseluruh Bali harus meniru hal ini dan belajarlah dari Pura Batur. Disisi lain, saya juga merasa salut dengan keberadaan Desa Adat Batur yang juga sangat cerdas dapat mengelola asetnya dengan baik, sehingga kini banyak situs ekonomi kreatif yang bisa dilahirkan oleh Desa Pakraman Batur. Secara Filosophy, warga Desa Adat Batur sudah memahami makna filosophy amerta Ida Betara Betari ring Batur untuk kesejahteraan umat.  “Ungkap Shri Gusti Wedakarna. Lebih lanjut, ia juga memuji pelaksanaan Karya Agung Ngusaba Kadasa dan juga Upacara Pepranian yang dinilai sarat dengan  makna. “Upacara Pepranian ini selain mengandung nilai filosophis, juga menunjukan kewibawaan Hindu yang sesungguhnya. Acara ditata dengan baik, rapi dan protokol yang tepat waktu. Ini yang jarang saya temui di pura pura besar lainnya. Ini akan terus menjadi cerita baik dari mereka yang menyaksikan langsung upacara ini. Betapa bangganya menjadi bagian Hindu Indonesia yang ikut melestarikan budaya Nusantara. Ini Satyagraha sebagaimana diajarkan Maharesi kita.” Ungkap Gusti Wedakarna. Sebelum meninggalkan pura Senator Arya Wedakarna, berkesempatan mengamati sejumlah warung warung Sukla dan pedagang yang berada diseputaran Pura Batur, dan menyampaikan apresiasinya karena Umat Hindu semakin sadar dengan budaya mengkonsumsi makanan Sukla. “Tiang senang ada warung Sukla dimana mana. Warung milik umat sudah bangga mencantumkan branding “Nak Bali” atau ajengan SUKLA. Ini sebuah upaya positif yang akan berkembang terus dikemudian hari. Anak muda Hindu, keluarga keluarga Hindu harus dibiasakan mengkonsumsi ajengan yang suci dan bersih. Logikanya, setelah umat nunas tirta di Parahyangan Pura, tentu (seharusnya) umat mengkonsumsi ajengan yang diproses dengan suci. Tiang dan sebagian umat meyakini, bahwa setiap orang Hindu Bali dalam memproduksi makanan, pasti sudah memenuhi unsur Sukla, unsur Suci dan juga tidak leteh dan cemer. Tiang sangat berbahagia melihat perkembangan ini. Ini dinamakan ekonomi kerakyatan yang Pancasilais. Warga desa harus yang pertama yang mendapatkan manfaat ekonomi saat karya. Setelah besakih, kini Batur dan kedepan teladan ini digetok tularkan pada pura pura lainnya. “Ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Hindu Center Of Indonesia ini. ( Humas )