«

»

Aug 11

SENATOR WEDAKARNA TERUS GELORAKAN “ ONE FAMILY, ONE BHAGAWAD GITA “

Nasionalis – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Pengurus The Hindu Center of NTB di Pura Gunung Sari Lombok NTB 

RIBUAN UMAT HADIR HINDU BOOK FAIR DI PROVINSI NTB

Senator RI asal Bali Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III benar – benar memanfaatkan NKRI sebagai panggung perjuangan. Ia konsisten terhadap masalah keumatan, tidak hanya saja di Bali tapi juga di Nusantara. Melalui lembaga besar yang dipimpinannya, The Hindu Center of Indonesia, Senator Dr. Arya Wedakarna melebarkan pengaruh Jnana Marga ( Jalan Ilmu Pengetahuan ) dengan terus mendorong generasi muda Hindu untuk berjuang melalui Tri Dharma yakni Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Salah satunya dengan kegiatan Hindu Book Fair ( Pameran Buku Hindu ) yang untuk pertama kali diadakan di Provinsi NTB tepatnya di Wantilan Pura Gunung Sari, Mataram, Lombok, NTB. Disambut oleh I Wayan Sukawan ( Direktur The Hindu Center of NTB ), I Nyoman Karye ( PHDI Kabupaten Lombok Barat ), I Gede Jawidikarta Pengempon Pura dan sejumlah tokoh Hindu lainnya dihadapan umat Hindu yang hadir, Dr. Arya Wedakarna ( AWK ) memberikan dharma tula yakni terkait dengan peran umat Hindu dalam membantu negara memerangi Radikalisme. Sejumlah pesan bijak pun disampaikan oleh Senator AWK khususnya kepada generasi muda Hindu, agar satya sradha dan bhakti sebagai umat Hindu Dharma. “ Satu kesan yang sangat baik terhadap karakter umat Hindu di NTB yang sampai kini saya salut yakni bahwa umat Hindu NTB ini dianggap “ katos “, keras, berani  dan mampu menunjukan eksistensi diri. Tidak mudah untuk mengganggu kedaulatan Hindu di NTB, karena umat Hindu di NTB bukanlah pendatang melainkan bagian dari sejarah Hindu NTB. Bagaimana dulu peran Raja Karangasem, peran Dang Hyang dan Maharesi terhadap syiar agama Hindu diabad ke 18 dan jauh sebelumnya, dan ini harus dicatat dengan sejarah. Maka dari itu saya minta THCI NTB segera buatkan buku penelitian tentang hal ini. Saya mau setiap sejarah Hindu di NTB tercatat dengan resmi, jika tidak maka kedepan akan sangat mudah sejarah Hindu dihapus oleh penguasa yang tidak pro Pancasila. Kita harus belajar dari hilangnya sejarah Hindu dalam sejumlah buku sejarah Bangsa. Ini sudah melawan pesan Bung Karno yakni Jas Merah. “ Ungkap Gusti Wedakarna yang President The Sukarno Center ini. Dalam kesempatan itu, Gusti Wedakarna juga meminta agar setiap anak muda di NTB agar memiliki kitab suci Weda, karena hidup dirantau, hidup sebagai mayoritas di Bangsa ini kerap anak muda Hindu menjadi sasaran konversi agama dari kaum misionaris dan misi syiar. “ Orang tua jangan menganggap remeh masalah anak muda tidak memiliki kitab suci, hati – hati. Jika saat remaja anak muda Hindu tidak dikenalkan dengan kitab suci Weda, maka kemungkinan perpindahan agama akan cukup deras, karena anak Hindu tidak menguasai ilmu agama dan juga kalah berdebat.   Hindu memiliki 108 kitab suci Weda, dan yang paling mudah dicerna oleh kaum muda Hindu adalah Kitab Suci Bhagawad Gita serta Itihasa Weda Ramayana dan Mahabrata. Saya minta bekali anak – anak kita, minimal One Family One Bhagawad Gita. Dalam sejarah Bung Karno adalah pembaca setia bhagawad gita begitu juga Ida Bagus Mantra adalah salah satu penulis buku bhagawad gita ketika menjadi Doktor Hindu di India. Saya akan minta pada Menteri Agama RI agar lebih banyak mencetak buku agama untuk umat Hindu dipinggiran. Bagi yang tidak punya, lembaga Hindu wajib untuk menyediakan tapi bagi yang mampu, ngiring cari, beli dan usahakan kitab suci Weda ditoko buku terdekat. Sayang sekali, umat Hindu tidak memiliki akses terhadap pusat buku Hindu dan kita coba dengan pameran buku Hindu ini. Nanti buku Hindu ini akan diadakan di Lombok dan provinsi lainnya di Indonesia. Jnana harus menjadi panglima bagi eksistensi Hindu “ ungkap Gusti Wedakarna yang merupakan putra ( Swargi ) Shri Wedastera Suyasa, salah satu pendiri PHDI pada tahun 1959. ( Humas )